domino online

Menilik Kembali ‘Misteri Kejayaan’ Pemerintahan Orde Baru Lewat Minyak

Pemerintahan Orde Baru – pulang disinggung-singgung oleh di antara tim pasangan calon presiden dan wakilnya. Keberhasilan program dari Orde Baru disinggung akan diterapkan andai pasangan tersebut menang.

Dalam sejumlah hal, pemerintahan Orde Baru memang memiliki sejumlah pencapaian. Tak terdapat gading yang tak retak, Orde Baru pun memiliki sejumlah catatan merah.

Situasi pun bertolak belakang antara pemerintahan ketika ini dengan zaman Orde Baru. Salah satu yang sangat kentara ialah bersangkutan minyak.

Pemerintah ketika ini diberi beban dengan impor minyak yang tinggi sampai-sampai mendorong defisit neraca transaksi berjalan. Dulu ketika Orde Baru, Indonesia bak raja minyak.

Booming minyak yang terjadi pada periode 1974-1982 menjadi di antara titik urgen pemerintahan Orde Baru. Tingginya harga minyak di pasar internasional menciptakan pemerintah saat tersebut mendapatkan pemasukan yang lumayan besar.

Pada 1977 Indonesia memproduksi begitu tidak sedikit minyak sampai mencapai 1,68 juta barel per hari, sedangkan konsumsi BBM rakyat Indonesia melulu sekitar 300.000 barel per hari. Ini yang mengakibatkan Indonesia masuk dalam organisasi OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries).

Berbeda dengan sekarang, keperluan BBM domestik pada 2017 sebesar 1,3 juta barel masing-masing hari (bopd). Kebutuhan BBM itu diisi dari buatan minyak mentah dalam negeri, impor minyak mentah, dan impor BBM.

Untuk buatan minyak mentah sejumlah 525 ribu bopd atau selama 59% berasal dari dalam negeri. Minyak mentah dari impor sendiri sebesar 360 ribu bopd atau memungut porsi 41%. Secara total, jumlah minyak mentah yang diproduksi menjangkau 885 ribu barel bopd.

Besarnya pemasukan negara dari sektor minyak, menciptakan pemerintah orde baru mempunyai amunisi untuk mengerjakan pembangunan. Pembangunan yang dilaksanakan saat tersebut mengarah pada destinasi sosial.

Berdasarkan keterangan dari data sejarah yang disalin Bank Indonesia (BI), Rabu (21/11/2018), kondisi tersebut memungkinkan pemerintah memacu pekerjaan pembangunan ekonomi dan mengemban program pemerataan pembangunan lewat penyediaan kredit likuiditas, tergolong pemberian kredit guna mendorong pekerjaan ekonomi lemah.

Namun, pengucuran deras kredit perbankan tersebut menyebabkan uang beredar bertambah dalam jumlah yang lumayan besar. Akibatnya, tingkat inflasi 1973/1974 melonjak tajam menjebol angka 47%.

Pemerintah Orde Baru kembali membenahi diri dengan mengerjakan program stabilisasi. Pada 1974/1975 inflasi juga turun menjadi 21%.

Hal ini memberi kesempatan Pemerintah guna menurunkan suku bunga deposito dan kredit jangka pendek khususnya ekspor dan perdagangan domestik pada Desember 1974 untuk mendorong perkembangan ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *